Tips Menonton Konser Bagi Wanita

konser

Apa saja hal-hal penting yang harus dipersiapkan untuk menonton sebuah pertunjukan musik seperti konser?  Mungkin hal ini terdengar remeh, namun bagi saya ini sama pentingnya dengan mempersiapkan diri untuk pergi ke acara penting lainnya. Seperti berangkat ke acara kondangan misalnya. Saya harus memperhatikan pakaian apa yang tepat dikenakan, kado apa yang harus saya berikan, dan yang paling penting adalah dengan siapa saya pergi ke acara tersebut. Terdengar ribet memang, tapi begitulah wanita.

Bagi pria, menonton konser adalah perkara sederhana. Berbeda dengan wanita yang harus memikirkan penampilan, kenyamanan saat menonton konser, dan juga keselamatan disaat dan setelah konser berakhir. Bagi saya prinsipnya adalah aman, nyaman dan tidak ribet.

  1. Pakaian: Salah kostum adalah hal yang biasa. Namun memakai pakaian yang tidak nyaman adalah kesalahan. Saat menonton konser MONO of Japan di Bandung beberapa tahun lalu saya mengenakan gamis panjang yang basah kuyup karena hujan. Kesalahan kostum ini terjadi karena saya tergesa-gesa datang ke konser padahal saya baru saja sampai di Bandung sehingga tidak bisa berganti pakaian. Memakai gamis saat menonton band post rock tentunya akan terlihat aneh. Namun percayalah, tidak ada yang memperhatikan penampilan orang lain saat mata mereka fokus pada band di panggung. Pakaian yang tidak nyaman jauh lebih mengganggu saat menonton konser. Jika konser tersebut mengharuskan anda duduk selama 2-4 jam di tribun berlantaikan ubin, maka jeans ketat adalah pilihan yang sangat menyengsarakan. Bagi anda yang memiliki tubuh pendek seperti saya, mengenakan sepatu dengan sol tebal (yang nyaman) adalah sebuah keharusan. Yang pasti, berpikirlah dua kali untuk mengenakan high heels jika konser tersebut mengharuskan anda berdiri selama berjam-jam.
  2. Jaket/ Jas hujan : Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan hal ini. Hingga suatu hari saya menonton konser Payung Teduh di Jatinangor. Sebelum memasuki venue, teman saya mengingatkan untuk membeli jas hujan karena cuaca saat itu tidak menentu. Dan memang, sepanjang konser hujan deras dan gerimis tidak henti turun. Bersyukur sekali saya mempersiapkan jas hujan tersebut sebelumnya. Akhirnya hal ini menjadi kebiasaan setiap kali saya menonton konser.
  3. Masker : Bagi konser yang digelar di luar ruangan, asap rokok yang mengepul adalah sebuah keniscayaan. Jika tidak tahan dengan bau menyengat asap rokok dari berbagai arah, maka masker adalah solusinya.
  4. Kamera : Tidak semua konser/gig mengizinkan penonton untuk membawa kamera professional. Jika memang tidak bisa membawa kamera DSLR, mengabadikan momen melalui kamera ponsel juga tidak masalah. Namun terkadang, sesekali menonton konser tanpa mengambil foto/video terasa jauh lebih memuaskan.
  5. Makanan dan minuman : Membawa makanan dan minuman biasanya diizinkan untuk gig dengan skala yang lebih kecil. Pada konser yang lebih besar penonton dilarang untuk membawa makanan dan minuman, namun di dalam venue biasanya tersedia booth food & beverage. Menonton konser dalam keadaan lapar tentu tidak menyenangkan, jadi jangan lupa untuk mengisi perut sebelum datang ke konser.
  6. Teman : Menonton konser band dari genre apapun terasa hampa tanpa teman. Beberapa kali saya mencoba menonton konser sendirian rasanya sangat canggung dan sepi. Biasanya, menonton konser dengan teman yang sama-sama menyukai band/musisi yang tampil di panggung rasanya sungguh menyenangkan. Yang pasti, menonton konser bersama teman tidak membuat anda khawatir saat pulang ke rumah.

Selama konser berlangsung, saya selalu mengupayakan untuk duduk/berdiri di barisan terdepan. Alasannya adalah karena saya ingin fokus menyaksikan band favorit saya tanpa gangguan apapun. Tapi, posisi terdepan belum tentu posisi yang paling aman. Beberapa minggu lalu saya mengalami pengalaman buruk saat menonton konser BARASUARA. Saat mata saya terpaku pada band pembuka yang sedang tampil di panggung, seseorang meletakkan tangan di bahu saya lalu menyeret saya sekitar dua meter. Awalnya saya pikir orang itu adalah teman atau kenalan, tapi ternyata orang yang bertubuh dua kali besar badan saya tersebut adalah orang asing (bule). Setelah saya melepaskan tangannya dengan paksa, ia kembali melakukan hal tersebut. Awalnya saya pikir ia melakukan hal tersebut karena menyangka saya adalah laki-laki. Kebetulan pada saat itu saya mengenakan kupluk jaket, tapi nyatanya ia melakukan hal yang sama pada teman saya yang lain. Pengalaman ini membuat saya trauma. Meskipun saya sudah melapor pada EO dan petugas keamanan perihal ketidaknyamanan tersebut, namun tidak ada yang bisa dilakukan. Satu-satunya hal yang harus saya ingat adalah bahwa saya tetap harus waspada pada keadaan sekitar.

Suatu waktu mungkin kita akan dihadapkan pada situasi darurat. Misalnya, saat menonton konser yang penontonnya sangat ramai hingga berdesak-desakan. Penonton saling berebut oksigen, belum lagi asap rokok yang membuat semakin sesak. Pada situasi ini biasanya saya segera mundur ke belakang dan mencari tempat yang lebih terbuka. Walau bagaimanapun, keselamatan pribadi lebih penting daripada memaksakan diri menonton konser lebih dekat. Terlebih lagi, pada kondisi berdesak-desakan anda beresiko dikerjai tangan-tangan jahil yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s