Pernyataan Cinta Utada Hikaru Untuk Sang Ibu Melalui Album Fantôme

fantome

I’m not like a gorgeous bombshell or anything like that”, ungkap Hikki di awal karirnya dulu. Namun realitanya, setelah lebih kurang enam belas tahun sejak debutnya di industri musik, Utada Hikaru tetap sama. Tidak pernah kehilangan pengaruhnya, masih berada di posisi teratas dan tak pernah tergoyahkan. Bahkan meskipun memutuskan hiatus dalam waktu yang sangat panjang, ia tidak dilupakan.

Bagi sebagian orang, Utada Hikaru identik dengan lagu First Love yang membuatnya menjadi mega bintang. Atau bagi para gamers, Utada Hikaru akan selalu dikaitkan dengan Kingdom Hearts. Bagi saya, Hikki adalah penyanyi yang tiba-tiba mengisi masa remaja saya hingga saat ini. Kala itu saya tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali lagu First Love yang tiba-tiba sering diputar di radio, hingga akhirnya saya pulang sekolah dengan membawa serta album pertama musisi yang saat itu masih berumur 16 tahun tersebut.

Banyak hal yang membuat saya tidak pernah meninggalkan musik Utada Hikaru hingga saat ini. Suaranya yang saat itu terdengar asing bagi pendengar musik Jepang dengan lowkey register yang khas misalnya. Tidak seperti penyanyi wanita Jepang lain yang identik dengan vokal yang “mencicit”, Hikki memiliki suara yang terdengar sedikit maskulin.

Selain itu, tiga album pertama penyanyi kelahiran Manhattan ini sangat berkesan bagi saya. Ia membawa R’n’B melalui album First Love di tahun 1999, memasukkan unsur jazz hingga rock di album Distance (2001) dan mulai memperkenalkan musik eksperimental di album Deep River (2002). Saya bisa menyanyikan ulang masing-masing lagu dari ketiga album ini meskipun lagu-lagu tersebut tidak lagi saya dengarkan dalam jangka waktu yang lama.

Setelah berhasil memperoleh popularitas di Jepang melalui tiga album tersebut, Hikki mencoba memproduksi album berbahasa Inggris pertamanya yang berjudul Exodus (2004). Album yang berada di bawah label Island Record ini ikut diproduseri oleh Timbaland dengan lagu andalan Easy Breezy. Dua hal yang saya ingat dari album ini adalah lirik-lirik yang provokatif dan sound-sound asing yang tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Empat tahun setelah album Deep River yang “kelam”, ia merilis album Ultra Blue yang lebih berwarna dan ceria. Sentuhan eksperimental dan elektronika bahkan lebih terasa di album yang rilis tahun 2006 ini. Setelahnya ia memproduksi album Heart Station yang tidak jauh berbeda dari Ultra Blue. Hingga akhirnya ia merilis album berbahasa Inggris kedua, This Is The One (2009), sebelum memutuskan hiatus untuk waktu yang tidak ditentukan sejak tahun 2011. Satu-satunya karya yang dihasilkan Hikki pada masa hiatus ini adalah single Sakura Nagashi (2012) yang merupakan lagu tema untuk film animasi Evangelion : 3.0 You Can (Not) Redo.

Menariknya, meskipun menjauh dari dunia musik yang membesarkan namanya, ada beberapa hal fundamental yang terjadi dalam kehidupan sang diva pada masa rehat ini yang tidak luput dari perhatian publik.  Diantaranya adalah kematian tragis sang ibu, Keiko Fuji (Junko Utada) yang bunuh diri pada tanggal 22 Agustus 2013. Meskipun merelakan kepergian sang ibu yang telah lama menderita gangguan mental, namun ia menyesali bagaimana cara sang ibu mengakhiri penderitaannya tersebut.” I hope my mother is relieved of long suffering, then again her last act was so sad that a sense of remorse cannot stop welling up inside of me”.

Setahun setelah kabar menyedihkan tersebut, Hikki mengumumkan kabar bahagia tentang pernikahannya yang kedua (setelah perceraiaanya dengan Kazuaki Kiriya) dengan seorang bartender asal Italia, Fransesco Calliano di London. Hingga akhirnya Hikki mengabarkan bahwa ia telah menjadi seorang ibu setelah melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun 2015 lalu.

Bagi seseorang yang memperoleh darah seni yang kental dari kedua orang tuanya, sejauh apapun ia mencoba menghindar dan melangkah pergi pada akhirnya akan kembali pada jalur tersebut. Meskipun sejak kecil bercita-cita menjadi scientist, Hikki telah memilih jalannya sebagai musisi dengan menulis lagu sejak usia 10 tahun. Dan setelah hiatus dalam waktu yang tidak singkat, di tahun 2016 ini ia kembali melanjutkan karir bermusiknya. Tentu saja hal ini disambut antusias oleh para penggemar yang telah lama menantikan kembalinya sang penyanyi.

Kembalinya Utada Hikaru ditandai dengan dirilisnya dua single di bulan April 2016. Lagu pertama berjudul Hanataba wo Kimi Ni (Bouquet for You) yang didaulat menjadi lagu tema untuk drama televisi Toto Nee Chan. Lagu kedua berjudul Manatsu No Tooriame (Midsummer Shower) yang dijadikan sebagai lagu tema untuk program berita NEWS ZERO. Meski tanpa penjelasan apapun, lagu ini jelas menggambarkan ungkapan hati Utada Hikaru atas kepergian sang ibu di tahun 2013 lalu.

Tidak cukup dengan dua single tersebut, bulan Agustus lalu ia mengumumkan bahwa sebuah album berjudul Fantôme akan dirilis pada tanggal 28 September 2016 melalui label Universal Japan. Terdapat 11 lagu dalam album ini, dan seluruhnya diberi judul dalam bahasa Jepang. Kabar ini tak pelak membuat penggemar Utada Hikaru sangat gembira dan tidak sabar menantikan datangnya hari tersebut (termasuk saya tentunya).

Sebelum album Fantôme dirilis, Hikki memperkenalkan lagu pembuka album ini melalui radio. Lagu berjudul Michi ini diperdengarkan pada tanggal 13 September 2016 dan dirilis secara digital tiga hari setelahnya. Tidak hanya Michi, lagu Nijiikan Dake No Vacance dan Tomodachi juga diperkenalkan ke publik sebelum album Fantôme resmi dirilis.

Bagi saya, kembalinya Utada Hikaru ke dunia musik Jepang adalah sebuah angin segar setelah bertahun-tahun “kehilangan selera” terhadap J-Pop yang didominasi oleh para idol. Walaupun begitu, saya bertekad untuk tidak menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap album yang akan ia rilis. Saya hanya berpikir bahwa album ini akan lebih emosional dibandingkan album-album sebelumnya.

Saat pertama kali mendengarkan Hanataba Wo Kimi Ni dan Manatsu No Tooriame saya memahami bahwa kali ini Hikki ingin memberikan musik pop yang sederhana dan tradisional namun menyentuh psikologis sang pendengar dari segi lirik. Setelah akhirnya mendengarkan lagu-lagu di album Fantome secara keseluruhan, pendapat saya ini tidak sepenuhnya salah/benar. Di beberapa lagu Hikki masih senang bermain-main dengan aransemen dan kali ini ia mencoba mengikutsertakan instrumen yang tidak pernah terdengar di lagu-lagu terdahulu.

Fantôme dibuka oleh lagu Michi (Road) yang dideskripsikan sebagai lagu upbeat dengan aliran pop dance. Seperti Heart Station, lagu ini memiliki intro yang khas. Namun bertolak belakang dari musik yang ditawarkannya, sesungguhnya Michi adalah lagu pembuka yang jauh dari kesan ceria. Ia bercerita tentang kerinduan, kesepian, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, hingga resiliensi. Mendengarkan lagu ini terasa seperti melihat seseorang yang tersenyum saat menangis. Inside my heart, you are there. Always at any time. Even this road I planned on walking alone, ended up beginning with you. It’s a lonely road, but I’m not alone. That’s how I’m feeling.

Lagu dengan lirik bahasa Jepang dan bahasa Prancis, Ore No Kanojo (My Girl) adalah lagu kedua di album ini. Saat membaca judulnya saya pikir Hikki menulis lagu ini dari perspektif seorang laki-laki. Namun saat membaca keseluruhan liriknya saya memahami bahwa ia mengambil perspektif seorang laki-laki dan wanitanya secara bergantian. Ia bercerita tentang hubungan romantika yang rapuh saat si lelaki menganggap hubungan mereka baik-baik saja, namun pasangannya merasa si lelaki tidak benar-benar mengenali dirinya.

My girl, she’s pretty good looking…friendly, gracious too. She’s got a reputation in my crowd for bein an attentive one. My girl, she never gets in the way of my work or hobbies. She never asks about it, never sweats a small stuffs if I come home late.

The girl standing next to you. Is me, but it’s not. It’s hard for a girl…i don’t want you to think I’m high-maintenance.

Setelah “dihantui” Ore No Kanojo, Fantome dilanjutkan dengan Hanataba Wo Kimi Ni. Banyak musisi lain yang membuat lagu seperti ini, namun bagi saya terasa asing saat mendengarkan lagu ini pertama kali. Rasanya ia jarang sekali menulis lagu dengan tempo yang sangat stabil hingga akhir lagu, sangat konservatif, dan tanpa selipan nada-nada rendah hingga sulit dinyanyikan. Hikki menulis, mengaransemen, dan memproduseri sendiri lagu yang menceritakan tentang perasaan cintanya yang tidak pernah diucapkan pada sang ibu.

I’ll give you a bouquet my beloved my beloved. No matter what words I string together, they won’t become truth. So, today I give you a bouquet, one the color of tears.

Awalnya, tidak ada clue apapun saat daftar lagu album Fantome pertama kali diumumkan di website resmi sang diva. Hanya deretan lagu-lagu yang ditulis dalam bahasa Jepang. Namun, sekitar dua minggu sebelum Fantome dirilis, para penggemar Hikki dikejutkan oleh video promosi lagu keempat di album ini, Niijikan Dake No Vacance, yang yang ternyata dinyanyikannya bersama Shiina Ringo. Hal ini terlalu mengejutkan bagi saya, karena dua orang musisi kenamaan ini adalah musisi favorit saya. Mereka memang pernah berduet menyanyikan lagu I Won’t Last A Day Without You (The Carpenters) di tahun 2002 untuk album Utaite Myori : Sono Ichi (album cover Shiina Ringo).

csz0a7svyaajrvg

Niijikan Dake No Vacance (A Vacation For Just Two Hours) yang bernuansa retro dance adalah satu diantara dua lagu yang menyenangkan di album ini. Setelahnya, Hikki kembali menyenandungkan lagu yang emosional. Menurut salah satu sumber, lagu berjudul Ningyo (Mermaid) ini adalah lagu pertama yang ditulisnya setelah kematian Keiko Fuji. Bagi saya lagu ini adalah rekuiem yang sangat menyedihkan walaupun ia tidak menuliskan lirik tersebut secara eksplisit.

It’s strange, how when i come here i feel that i could meet you.

Lagu selanjutnya di album ini berjudul Tomodachi (Friend) yang merupakan kolaborasinya bersama Nariaki Obukuro. Dari segi musik, lagu ini adalah favorit saya di album Fantome. Aransemennya terdengar begitu segar karena petikan gitar dan brass section yang membuatnya terasa seperti lagu bernuansa latin. Tema lagu ini sendiri relatif provokatif. Hikki bercerita tentang seorang gay yang menyukai temannya yang straight (bagi saya lagu ini akan lebih unik jika ia bercerita tentang seorang yang straight namun menyukai temannya yang gay).

Setelahnya, Hikki kembali menyanyikan kesedihan yang tidak berujung karena kepergian sang ibu melalui lagu Manatsu No Tooriame. Di album-album sebelumnya, lagu yang membuat saya selalu hanyut dalam kesedihan hanyalah Final Distance yang didedikasikan Hikki untuk korban penembakan tragis di sebuah taman kanak-kanak. Namun saat ini, mendengarkan Manatsu No Tooriame rasanya sama seperti pertama kali mendengarkan lagu tersebut.

Whenever I reach my hand out to someone, and my thoughts go to you. There are so many things I want to ask you. Overflowing, overflowing. 

The trees sprout, the months and days circle by. I want to explain my unwavering feelings. There’s a freedom in becoming free. The shadow cast, ever still, of those who must do the send-off.

Track ke-delapan di album Fantome berjudul Kouya No Ookami (Wolves of The Wilderness). Tiga hal yang dapat menandai lagu ini adalah bass line, trumpet, dan ketukan drum di awal lagu. Lagu ini terinspirasi dari novel ke-10 milik penulis Jerman, Hermann Hesse, Der Steppenwolf. Mendengarkan lagu ini seperti membawa kita pada sebuah adegan film thriller psikologis.

Lagu berikutnya berjudul Boukyaku (Forgotten). Kali ini ia berkolaborasi dengan rapper yang sedang naik daun, KOHH. Hikki lagi-lagi menulis tentang luka, kepedihan, kerinduan, dan kenangan-kenangan yang ingin dilupakan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Hikki menyanyikan lagu ini secara live suatu hari nanti.

Seperti roller-coaster, Hikki kembali mengembalikan mood pendengarnya dengan lagu Jinsei Saikou No Hi (Best Day Of My Life). Di antara semua lagu di album Fantome, lagu inilah yang terdengar sangat familiar seperti lagu-lagu di album Heart Station. Karena itu, dari segi musik tidak ada sesuatu yang spesial dari lagu ini. Tapi diantara semua lagu di album ini, Jinsei Saikou No Hi adalah lagu yang paling positif dan optimis.

Getting closer and closer to you. Wait up, wait up! The turn of events that would shock even Shakespeare, that’s life. This could just end up being the best day of my life. The bad times are over, good times are ahead. 

Hingga akhirnya album ini ditutup oleh lagu yang telah hadir sejak tahun 2012, Sakura Nagashi (Cherry Blossom Floating). Rasanya saya tidak pernah benar-benar menikmati lagu ini saat ia rilis di tahun 2012. Namun saat mendengarkan lagu-lagu di album Fantome secara berurutan, lagu ini terasa sangat pas menjadi klimaks bagi album yang begitu sentimental ini. Ia terbentuk dari kombinasi piano, strings, gitar, drum, dan synth yang progressif. Mendekati akhir lagu, instrumen-instrumen ini berpadu liar namun diakhiri oleh piano solo yang indah. Seperti kehidupan yang pada akhirnya menemukan tujuannya, begitulah Fantome ditutup oleh Sakura Nagashi. Everybody finds love in the end.

Credit : http://www.lyrical-nonsense.com/lyrics/utada-hikaru/

PS: Actually I never really care about the personal matters of the musician. I just like their music, not their life stories or their lifestyle.  But I know how it feels to lost someone like a mother.  I do know why Hikki still mourning about her trauma.  That’s why I cried countless times since Hanataba Wo Kimi Ni and Manatsu No Tooriame released. I even crying whenever I read the articles related to her comeback.  But through this album I know she has good resilience and gonna fight till the end. Ganbatte, Hikki!

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s