Concert/Gig · Indonesia · youtube

(Urban Gigs) Payung Teduh : Kurang Syahdu Apalagi?

rsz_dsc_0208

Masih aneh rasanya mengingat dalam beberapa bulan belakangan sudah tiga band indie yang hadir di Padang. Mulai dari SORE di bulan Maret lalu, BARASUARA di awal April, hingga Payung Teduh tiga hari lalu. Jika menengok ke belakang, hampir mustahil rasanya menyaksikan band-band indie yang kerap kali mengisi konser/gig di kota-kota besar di Indonesia datang ke kota ini. Saat memikirkan hal itu, satu-satunya yang terpikir adalah berterima kasih kepada perkembangan teknologi dan media sosial.

Saat baliho-baliho Urban Gigs berseliweran dengan foto personil Payung Teduh terpampang di sana, hal yang terlintas di pikiran saya adalah “Ah..akhirnya ya”. Meskipun telah pernah menyaksikan mereka secara langsung beberapa tahun lalu di Jatinangor, namun band ini adalah salah satu band yang sangat saya tunggu kehadirannya di kota ini. Jika pertama kalinya saya menyaksikan Payung Teduh kala gerimis nan romantis, apa jadinya menyaksikan band di bawah bendera Ivy League ini tampil di Padang yang panas. Lagipula, Mas Is sekarang tidak lagi gondrong seperti sediakala, apakah ia masih dapat menciptakan suasana magis saat membawakan lagu Cerita Tentang Gunung dan Laut?

Sama seperti band yang diusungnya, Urban Gigs juga untuk pertama kalinya hadir di Padang. Setelah hadir berkali-kali di kota-kota lainnya, akhirnya Padang “kebagian” juga acara serupa. Dengan mengusung konsep acara musik digabungkan dengan ajang kreasi seni anak muda, Urban Gigs menawarkan sebuah hiburan berkualitas yang dapat diikuti secara cuma-cuma alias gratis. Menariknya, seperti acara lain yang hampir mirip dengan konsep ini, untuk masuk ke dalam venue Urban Gigs tidak ada pemeriksaan apapun. Penonton dapat masuk dengan membawa botol minuman dan kamera professional. Di venue disediakan karpet rumput sintetis dengan bantal-bantal besar yang nyaman sehingga para penonton dapat menyaksikan band kesayangan mereka dengan santai.

Acara Urban Gigs di Padang diadakan di Parkiran Barat GOR. H. Agus Salim pada tanggal 16 April 2016. Sebagai pembuka, dihadirkan pula dua band lokal Padang yang kerap tampil di acara serupa. Mereka adalah Goodbye John dan Lalang. Seperti biasa, Goodbye John dengan musik Rock n Roll yang menghentak, Lalang dengan musik folk-nya yang teduh. Sayang sekali sound kali ini terdengar sangat jelek di telinga saya. Microphone yang mati, beberapa kali suara berdenging terdengar, ditambah suara drum yang kedengaran seperti kaleng dipukul. Untung saja band-band ini bukan lagi band pemula sekelas band anak SMA di festival.

Sekitar pukul 22.00 WIB para personil Payung Teduh yang terdiri dari Muhammad Istiqamah Djamad, Aziz Kariko, Alejandro Saksakame, dan Ivan Penwyn hadir di panggung dengan membawakan lagu pembuka Angin Pujaan Hujan. Melihat reaksi penonton yang langsung bernyanyi bersama saya langsung menyimpulkan bahwa popularitas band ini tidak main-main. Dengan kata lain, Payung Teduh yang merupakan band indie ternyata sudah sangat mainstream. Penonton yang luar biasa banyak dan membludak, tak hanya dari kalangan anak-anak yang menasbihkan diri sebagai “indie/geek/antimainstream” seperti yang sering saya temui di konser-konser lain. Penonton kali ini sangat heterogen, namun sangat harmonius. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi sebuah band indie.

Set list Payung Teduh malam itu berlanjut dengan lagu Kucari Kamu, Resah, Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, Biarkan, Cerita Tentang Gunung Dan Laut, dan Berdua Saja. Saya tidak menyangka lagu Tidurlah dibawakan malam itu. Namun Mas Is memainkan solo gitar yang membius siapapun yang mendengarkannya, mulai menyanyikan lirik pengantar tidur dan mengajak penonton bernyanyi bersama. Syahdu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Setelahnya, band yang telah menelurkan dua album ini memainkan lagu favorit saya, Rahasia. Saya duduk sangat santai lalu menengadah melihat langit. Ada bulan di sana. Oya, tidak seperti biasa, kali ini saya tidak duduk di barisan terdepan. Awalnya saya memprediksi akan memperoleh angle terbaik dari tempat duduk yang saya pilih, namun prediksi saya salah. Positifnya, alih-alih disibukkan dengan aktifitas mengambil foto/video, kali ini saya fokus bernyanyi. “Harum mawar…membunuh bulan…rahasia…tetap diam, tak terucap…”

Hingga akhirnya, penampilan Payung Teduh malam itu diakhiri dengan lagu Menuju Senja. Dari lagu pertama hingga lagu terakhir, tidak sekalipun penonton berhenti bernyanyi bersama sang vokalis. Namun sebuah kejadian kurang mengenakkan tersimpan di memori saya. Karena sebagian besar penonton duduk, beberapa kali terdengar suara “uuu…uuu…uuu…” yang ditujukan bagi penonton yang harus pulang meninggalkan tempat duduk mereka. Sayangnya, hal tersebut mengganggu penonton lain dan tentunya para personil Payung Teduh yang sedang memainkan lagu mereka. Saya berharap, semoga dilain waktu hal tersebut tidak terjadi lagi..

Advertisements

2 thoughts on “(Urban Gigs) Payung Teduh : Kurang Syahdu Apalagi?

  1. Dan aku barangkali bagian yang mwndapatkan ‘huhu,’ karena keluar dari spot terbaik–duduk ditengah, sebelum konsernya usai. Demi eka yang merengek pulang dan tidak tahan dengan asap rokok di kiri kanan. Kereen, yang nonton bnyk yang tau lagu mrka… Sampe ke parkiran pas pulang masih aja ada org yang ikutan menyenandung lagu mereka….:D

    1. sebelum lagu terakhir mas is nasehatin penontonnya loh “tidak ada paksaan dalam musik, musik itu bebas. mereka punya alasan untuk pulang duluan, jadi gak perlu di “huu huu”-in”. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s