Demi SORE di Malam Itu

Kamu pasti mengerti mengapa saya tetap memutuskan untuk pergi sore itu meskipun hujan tak kunjung reda. Tidak masalah jika pakaian saya basah saat berlari menuju halte bus. Saya harus menunggu lima belas menit hingga akhirnya bus itu datang. Tidak apa jika saya sedikit menggigil karena kedinginan.

Tidak banyak penumpang sore itu, hanya beberapa orang yang duduk dan berdiri dalam diam memperhatikan jendela yang basah. Untuk beberapa detik, saya merasa berada di dalam buku fiksi berdebu yang pernah saya baca. Setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Terlalu hikmat dan syahdu.

CeKkrtmVAAAIFeO

Kamu pasti tahu tujuan saya sore itu. Kamu pasti paham, karena jika bukan karena kamu, saya tidak mungkin pergi sendirian demi menyaksikan mereka. Di masa lalu, kamu lah yang mengenalkan lagu-lagu mereka pada saya. No Fruits For Today. Pergi Tanpa Pesan. Setengah Lima. Etalase. Kamu mungkin ingat saat-saat kita menyenandungkan lagu itu bersama.

Memang, sudah hampir lima bulan tidak ada konser di kota kita. Saat mengetahui band itu akan menghampiri kota yang selalu diguyur hujan setelah gerhana ini, saya sedikit meragu. Tidak banyak teman-teman yang tahu lagu-lagu mereka. Mereka yang biasanya saya temui di setiap konser pun sudah pergi entah kemana. Maafkan saya, satu-satunya orang yang terlintas di pikiran saya hanya Dik Armando. Dia yang sama sekali tidak tahu band itu dengan rela hati menemani saya meskipun hujan deras tak kunjung reda.

Sempat reda setelah maghrib, hujan deras kembali turun beberapa saat setelah MC membuka acara. Rupanya, acara yang dijadwalkan mulai pukul 16.00 WIB baru dimulai malam itu. Saat MC kembali memandu acara, mood saya seperti terjun bebas mengetahui bahwa MC malam itu tak hanya satu. Seorang komika yang kerap tampil di TV nasional dipanggil untuk menemani sang MC. Saya pikir ia akan menampilkan stand up comedy, namun nyatanya ia juga menjadi MC sepanjang acara.

Kamu pasti paham mengapa saya tidak nyaman karena saya banyak sekali mendengar kata-kata kasar dan vulgar malam itu. Mungkin saya memang naif dan tidak kekinian, namun saya kecewa banyak yang ikut tertawa dan menikmati saat orang itu melontarkan kata-kata paling kasar dalam bahasa minang. Dan bodohnya, saya yang selalu memilih duduk paling depan saat konser ikut dipermalukan olehnya. Dua kali. Namun tidak ada yang bisa saya lakukan, karena mungkin saja benar kata orang-orang “ignorance is best when it comes to creativity“.

Tidak hanya itu yang merusak mood saya malam itu. Band pertama yang tampil, Lalang, menyatakan kekecewaannya di atas panggung karena settingan sound system yang tidak kunjung sesuai keinginan mereka. Beberapa kali menyaksikan penampilan mereka, baru kali ini saya mendengarkan sound yang tidak maksimal. Alhasil, sang vokalis memperlihatkan kekesalannya di depan para penonton dan hanya menyanyikan tiga lagu malam itu.

Band selanjutnya adalah D’villanos, band dengan tampilan retro yang membawakan beberapa lagu 80’an dan lagu-lagu Naif. Saya dan Armando menikmati sekali penampilan band ini, terutama karena vokalisnya berpenampilan seperti PSY. Siapa tahu tiba-tiba mereka membawakan lagu Gangnam Style, hahaha.

Penampil selanjutnya adalah band beraliran reggae, Guava Jelly. Para penonton mulai memenuhi bagian depan panggung yang kosong lalu menari bersama diiringi lagu-lagu Bob Marley. Rasanya menyenangkan memperhatikan kaki-kaki mereka yang bergerak seirama. Para personil Guava Jelly-pun sangat solid, kompak, dan menikmati setiap detik penampilan mereka.

SAMSUNG CSC
SORE, 20 Maret 2016

Pukul 22. 30 WIB, akhirnya band itu naik ke atas panggung. Rasanya mood saya yang berantakan kembali membaik saat melihat Ade Firza Paloh, Awan Garnida, Adink Permana, Bemby Gusti, dan Reza Dwiputranto memainkan lagu-lagu andalan mereka. Ya, mereka adalah SORE, band yang kita sukai sejak kuliah dulu.

Dibuka dengan lagu berjudul 8 dari album yang baru dirilis Desember 2015 lalu, Los Skut Leboys. Merintih Perih, Lihat, Somos Libres, Setenga Lima, R14, Pergi Tanpa Pesan, dan diakhiri dengan Ssssttt….

Hanya sebentar, tanpa No Fruits For Today atau Plastik Kita ataupun Musim Ujan yang kerap kali diserukan penonton. Tidak puas memang, namun tidak berdaya. Tapi, meskipun sangat singkat setidaknya kehadiran SORE sudah berhasil memuaskan dahaga para penggemarnya yang ingin menyaksikan mereka secara langsung. Tenang, mereka berjanji akan datang lagi (jika diundang promotor).

Dan saat mereka kembali lagi, saya ingin menyaksikan mereka bersama kamu. Juga bersama Eka yang tidak pernah berhasil menonton penampilan band indie barang sekalipun karena harus pulang sebelum mereka tampil…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s