Indonesia · lirik · lyrics · opini

Tentang Hari-hari Yang Suram

Jika beberapa hari lalu banyak orang di berbagai belahan dunia menyaksikan “blood moon”, maka di daerah tempat tinggal saya, setiap harinya orang-orang dapat menyaksikan matahari merah dan bulat sempurna dengan mata telanjang. Semua berkat asap pekat yang tak kunjung hilang meskipun hujan telah turun beberapa hari.

Sudah lebih dua bulan kami di Sumatera tidak bisa menikmati udara bersih dan langit biru. Saat hujan deras turun, kami berharap polutan-polutan itu akan pergi untuk selamanya. Namun tepat sehari setelahnya, langit biru itu lenyap, digantikan oleh kabut asap yang menghalangi pandangan. Kabut asap yang mencekik tenggorokan kami dari hari ke hari.

Rasanya suram.

Benar-benar suram.

putih

Lalu, hari-hari yang suram ini bertambah suram setelah mendengarkan beberapa lagu yang baru saja rilis. Diawali oleh Efek Rumah Kaca yang mengunggah lagu “Putih” di akun Soundcloud mereka tanggal 22 September 2015 lalu. Putih merupakan gabungan dari dua lagu berjudul “Tiada” dan ” Ada”. Dari kedua judul ini mungkin sudah dapat ditebak lagu ini bercerita tentang apa.

Lagu Tiada didedikasikan untuk seorang teman bernama Adi Amir Zainun. Mendengarkan lagu ini akan membuat setiap pendengarnya merinding dan bergidik. Bukannya menimbulkan kesan horor/menakutkan, namun lagu ini sarat akan kontemplasi tentang kematian. Arensemen minimalis, lirik realis khas ERK ditambah sisipan “monolog” Cholil (CMIIW) semakin menimbulkan kesan mistis yang kental.

Tiada 

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga
 
Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah
 
Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian, awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

Lagu kedua di single Putih yang berdurasi 9.48 menit ini berjudul Ada. Lagu bernuansa psycedelic ini didedikasikan untuk keluarga yang selalu menyertai perjalanan mereka selama ini. “Sedangkan, ide tentang “Ada” bermula dari kebahagiaan akan lahirnya anak-anak kami, penerus penerus kami, harapan-harapan kami. Lagu ini kami dedikasikan untuk mereka” tulis ERK di akun Soundcloud mereka.

ADA

(Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)

Lalu pecah tangis bayi
Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api
 
Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka
 
Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran
 
Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang
 
Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

—-

 Lagu kedua berjudul Mati Rasa. Lagu ini milik seorang kenalan yang saya temui di Yogyakarta akhir tahun lalu. Ia bersama temannya berkolaborasi membentuk projek musik jarak jauh yang dinamai JARAK. Sebelum mengunduh lagu ini saya memiliki ekspektasi bahwa aliran musik yang disuguhkan adalah folk/pop/rock akustik. Namun nyatanya Mati Rasa dibentuk oleh elemen rock-baroque-psychedelic-post rock (semoga saya tidak salah). Saya menyukai aransemennya dari awal hingga akhir lagu. Liriknya lantang bersuara tentang rasa empati dan kemanusiaan yang makin tergerus.

“Aku ingin melihat dunia yang sederhana. Dimana kemunafikan bukanlah bagian darinya. Bila duka telah terbiasa, hatimu semakin hitam. Saling sakit menyakiti tak berkesudahan, hingga mati rasa”.

Download : Mati Rasa

salim

Mendengarkan lagu ini dan menyaksikan berita tentang kematian aktivis anti tambang di Lumajang, rasanya suram (dan geram). Mungkin memang pada akhirnya kita akan mati rasa saat mendengarkan tragedi-tragedi kemanusiaan yang sepertinya tidak berkesudahan.

Lagu terakhir berjudul Sembojan, baru saja dirilis 2 hari lalu (bertepatan dengan peringatan G 30 S PKI) oleh sang pemilik lagu, band Tigapagi. Seperti biasa, bukan Tigapagi jika tidak menciptakan lagu-lagu dengan nuansa mistis, sendu, namun sarat akan makna. Menilik ke album Roekmana’s Repertoir, album mereka yang rilis tahun 2013, secara pribadi saya menyebut mereka band reliji bernuansa gothic Sunda.

sembojan

Sembojan berdurasi 10 menit lebih 1 detik. Diawali oleh siulan yang terasa menyanyat jiwa, dilanjutkan dengan instrumental khas Tigapagi hingga menit ke 03.20. Sigit sang vokalis lalu mulai menyanyikan lirik tentang isu kemanusiaan di masa lalu. Tentang isu G 30 S PKI, tentang 7 pahlawan yang dibunuh, tentang orang-orang yang “hilang”, dan tentang semangat patriotisme.

“Wajah yang hilang berkisar di angka lima ratus ribu jiwa, perkaranya pun praduga, gugurkan tujuh sekawan”.

“Terpisahnya kepala, tubuh saling mencari, nama-nama yang dicuri, kan menggugat kembali. Sekarang atau nanti”.

“Guna meramu bangsa yang baru, sisihkan merah putih biru”.

Setidaknya untuk satu minggu kedepan, saya ingin kesuraman ini segera berakhir. Segera menghirup udara segar tanpa polutan, melihat kembali langit biru, dan tidak lagi mendengar kabar duka.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Hari-hari Yang Suram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s