Marapi Kali Kedua

Sudah sejak lama saya ingin kembali merasakan sensasi mendaki gunung seperti yang saya rasakan di tahun 2011 lalu. Saat itu bersama lima orang teman lainnya saya mendaki Gunung Marapi yang terletak di Kab. Tanah Datar & Kab. Agam, Sumatera Barat. Pengalaman mendaki saat itu masih sangat lekat di ingatan saya dan membuat saya selalu ingin dan ingin kembali ke sana.

Ternyata saya ada kesempatan lagi untuk mendaki gunung aktif setinggi 2.891 m ini. Jumat lalu, bersama dua orang alumni dan junior-junior di kampus, saya mendaki Marapi untuk kali kedua. Sebenarnya kali ini saya berharap untuk melakukan perjalanan di siang hari di saat matahari masih bersinar terang karena saat pertama kali ke sana saya dan teman-teman melakukan pendakian di malam hari. Namun ternyata cuaca berkata lain, kami harus menyerah pada hujan yang sudah terlebih dahulu turun di hari itu. Sehingga, kami baru berangkat saat maghrib menjelang.

Rombongan kami berjumlah 18 orang. Lima diantaranya adalah perempuan, termasuk saya. Empat orang perempuan itu bertubuh kecil dan pendek seperti Hobbit, termasuk saya. Hingga saya berimajinasi bahwa perjalanan kali ini adalah petualangan para Hobbit ditemani para peri dan seorang penyihir wanita bertongkat bengkok (mungkin versi wanita dari Gandalf), hahaha. And it remains me of this song:

Mendaki gunung bagi saya bukan perkara sepele. Ada persiapan mental dan persiapan fisik yang tidak bisa diabaikan. Namun kali ini, saya mengabaikan persiapan fisik yang menyebabkan perjalanan ini terasa sangat berat. Beberapa hari sebelum berangkat, kondisi fisik saya tidak terlalu prima terlebih saat itu saya sedang menstruasi. Saat mendaki, pinggang saya sakit luar biasa. Saat turun gunung? Rasanya bahkan lebih menyakitkan.Saat itu saya banyak mengeluh, hampir menangis, dan nyaris hopeless. Saya dan 3 orang lainnya adalah rombongan yang turun terakhir kali dan menyebabkan teman-teman yang lain menunggu hingga 3 jam.  But in the end i’m proud of myself even though i’m going down the mountain like expectant mother 😀

Because the sky is blue, it makes me cry (The Beatles)
Because the sky is blue, it makes me cry (The Beatles)

Terkadang saya berpikir, rasa penasaran manusia benar-benar bisa mengalahkan apapun. Mereka bisa menghiraukan kelelahan dan berbagai macam stressor untuk mencapai puncak sebuah gunung yang tinggi. Mereka mengalahkan rasa takut terhadap kegelapan, udara dingin, dan serangan binatang buas. Belum lagi mitos-mitos mistis yang sering diceritakan dari mulut ke mulut. Padahal di sisi lain mereka bisa memperoleh kenyamanan tidur di kasur empuk dengan selimut hangat lalu bermimpi indah.

Bagaimana dengan soundtrack petualangan kali ini?

Saat pertama kali mendaki Marapi beberapa tahun lalu, lagu yang dinyanyikan oleh Madonna, Don’t Cry For Me Argentina (1996) menjadi soundtrack perjalanan kami kala itu. Sedangkan momen Jumat lalu, lagu milik Meredith Wilson yang dicover oleh The Beatles (1963) mengiringi petualangan saya mendaki gunung Marapi untuk kali kedua.

PS: Terimakasih untuk dua orang adik, Budi dan Waka yang sudah banyak berkorban kali ini. Terimakasih untuk menjadi pahlawan kakak-kakaknya yang merepotkan. Kalian sungguh keren sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s