album · Indonesia · lirik · lyrics

Lirik Lagu-Lagu Album Berjalan Lebih Jauh Banda Neira

Berjalan Lebih Jauh

Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur

Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama

Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama

Di Atas Kapal Kertas

Bersembunyi di balik tirai
Memandang jalan
Gadis kecil ingin keluar
Menantang alam

Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun
membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang

Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka

Bersembunyi ia di dalam
Mengintai ruang
Gadis kecil merangkai kapal
Melipat jarak

Ke Entah Berantah

Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tanpa bercela
Siapa kuasa

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap tehempas
Ke tanda tanya

Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa

Hujan Di Mimpi

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Esok Pasti Jumpa (Kau Keluhkan)

Kau keluhkan awan hitam yang
menggulung tiada surutnya
Kau keluhkan dingin malam yang
menusuk hingga ke tulang
Hawa ini kau benci
Dan kau inginkan tuk segera pergi
Berdiri angkat kaki
Tiada raut riangmu di muka,
pergi segera

Kau keluhkan sunyi ini
dan tak ada yang menemani
Kau keluhkan risau hati
yang tak kunjung juga berhenti
Rasa itu kau rindu
Dan kau inginkan tuk segera tiba
Dan kau kembali bermimpi
Hanyut dalam hangatnya cahaya
pelukan cahaya mentari

Dan ingatlah pesan sang surya
pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada,
esok pasti jumpa

Senja Di Jakarta

Bersepeda di kala senja
Mengejar mentari tenggelam
Hangat jingga temani rasa
Nikmati Jakarta

Bersepeda keliling kota
Kanan kiri, ramai jalanan
Arungi lautan kendaraan
Oh, senja di Jakarta

Nikmati jalan di Jakarta
Maafkan jalan Jakarta

Bersepeda sepulang kerja
Kenyang hirup asap kopaja
Klakson kanan kiri berbalasan
Oh, senja di Jakarta

Nikmati jalan di Jakarta
Maafkan jalan Jakarta

Bersepeda, di kala senja
Nikmati Jakarta

Kisah Tanpa Cerita

Matahari menyingsing,
kali ini turun dari utara
Salju turun percaya saja,
meski belum waktunya

Perempuan di paruh waktu,
Hatinya teguh di tempa kalut
Lelaki kalut di ujung tanduk,
harapannya sederhana
Sekisah tanpa cerita
Sekisah tanpa cerita

Angin menanti
Gema suara burung berpulang
Sore itu tak biasanya
tak ada cahaya di jendela

Perempuan di paruh waktu,
Hatinya teguh di tempa kalut
Lelaki kalut di ujung tanduk,
harapannya sederhana
Sekisah tanpa cerita
Sekisah tanpa cerita

Jika yang tersisa hanya kita berdua
Jika yang menggila ada kita berdua
Lekas jauh pergi

Di Beranda

Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembabmu malu dilihat tetangga

Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
laraku setiap teringat peluknya

Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu perg
Usahlah kau pertanyakan
ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah

Rindu (Musikalisasi Puisi Subagio Sastrowardoyo)

Rumah kosong
Sudah lama ingin dihuni
Adalah teman bicara
Siapa saja atau apa
Jendela, kursi
Atau bunga di meja
Sunyi, menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir
dari mimpi

Mawar

Malam mawar tiba
Seperti angin
Tanpa terlihat, tapi terasa

Malam mawar tiba
Menjemput harapan
Memaksa bertemu
Dengan ajalnya

Malam mawar tiba
Seperti pencuri
Tanpa suara, tapi terasa

Malam mawar tiba
Membungkam asa
Malam mawar tiba
Lalu kita lupa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s