album · review

Menelisik Album Telisik Danilla Riyadi

Danilla_-_Telisik

“Bagi saya, sebuah lagu adalah entitas spesial bernyawa yang ditakdirkan untuk menemukan serta memilih sendiri siapa pelantunnya, siapa tuannya, siapa induknya, siapa yang mengasuhnya. Alih-alih penyanyi berbandrol “kelas wahid” dengan teknik suara ekstravagant dan sejumlah atribut keemasan lainnya, sejumlah lagu yang saya tulis lebih memilih sosok pelantun bersuara sederhana, jauh dari embel-embel mumpuni. Ia bernyanyi tidak hanya semata-mata dengan pita suaranya saja, melainkan melibatkan batinnya. Adalah Danilla JP Riyadi yang menjadi sosok ibu bagi lagu-lagu yang berderet di album ini, ia amat mencintai lagu yang ia lantunkan sebagaimana seorang ibu mencintai anaknya”.

Begitulah testimoni Lafa Pratomo mengenai Danilla dan album Telisik yang ia produseri. Mau tidak mau saya setuju dengan sang produser. Suara Danilla memang tidak “wah” seperti seorang diva, namun bagi saya cara bernyanyinya yang unik memiliki pesona tersendiri. Yang pasti, lagu-lagu serta musik indah karya Lafa berkolaborasi dengan “ajaib” dengan suara Danilla yang teduh.

Memang sudah lama nama ini saya baca di twitter milik label Demajors, namun entah kenapa saya tidak tertarik mencari tahu tentangnya. Dalam pikiran saya, ia penyanyi pop dengan suara merdu seperti Raisa, Lala Karmela, dll. Perkenalan pertama saya dengan Danilla adalah saat iseng mendengarkan souncloud band-band indie yang berakhir di akun miliknya. Lagu pertama yang saya dengarkan adalah Buaian. Penasaran dengan penampilan penyanyinya, saya beralih ke Youtube dan menemukan video klipnya yang absurd. Tak sampai disana, saya juga menemukan “keanehan” di video klip Ada Di Sana. Hingga akhirnya, saya mendengarkan lagu-lagunya di Soundcloud dan bertekad untuk memiliki album fisik Telisik.

Sedikit bercerita tentang perjuangan saya menemukan album Telisik dua minggu yang lalu. Mumpung berada di Yogyakarta, saya mencoba mencari album ini di Disctarra Ambarukmo Plaza, namun ternyata tidak ada. Setelah browsing, saya mengetahui bahwa di Yogyakarta ada Demajors yang berlokasi di Jogja National Museum. Bertekad menemukannya, saya mengajak sepupu berjalan kaki menyusuri Malioboro hingga Jogja National Museum (JNM) yang ternyata lumayan jauh. Sesampainya di JNM saya kebingungan mencari toko yang dimaksud. Setelah bertanya kepada satpam, akhirnya saya masuk ke sebuah toko yang sepi tak ada pengunjung. Di dalamnya terdapat semua “harta karun” cd-cd musisi indie Indonesia. Begitulah, hingga cd Danilla sampai di tangan saya dan didengarkan berulang-ulang di kost Rani.

SAM_4222

Terdapat 13 track di album Telisik. Hampir semua lagu ditulis dan diaransemen oleh Lafa Pratomo. Lagu pertama berjudul Penutupan. Liriknya hanya satu baris “..terjebak di lintasan waktu, terbujur aku dan membatu..”. Lagu pembuka yang terasa suram. Namun di track kedua, pendengar disuguhi lagu cinta mendayu berjudul Ada Di Sana. Aroma jazz terasa di lagu ini. Dan liriknya, walaupun berkisah tentang jatuh cinta namun tidak terkesan cengeng. ” Sudikah kiranya kau, mengizinkan diriku untuk sejenak berkunjung ke dalam hatimu..pastikan ku ada di sana” begitulah sepenggal liriknya.

Lagu selanjutnya berjudul Senja Di Ambang Pilu. Walaupun judulnya muram, namun lagu ini adalah salah satu lagu yang lumayan nge-beat dan bertempo cepat. Liriknya sendiri bercerita tentang kerinduan yang amat sangat terhadap seseorang. “Tak berdaya ku berada di ambang waktu untuk memulai pilu. Kutenggelam ke alam sepi, ku ditelan sunyi memikirkanmu (memikirkanmu)”.

Buaian mengisi posisi track ke empat. Lagu beraroma swing ini bercerita tentang jatuh cinta. “Buaian, pesona dirimu membawaku masuk ke alam buaian. Masih teringat jelas waktu kau hadir di depanku. Buaian, buaian..terpukau ku dibuatmu”. Namun mungkin ada kalanya perasaan cinta itu dinikmati sendirian. “Tak perlu kau mengerti, rasaku kepadamu, biarkan jadi urusanku. Tak usah kau pahami rasamu kepadaku, biarkan jadi urusanmu”.

Lagu selanjutnya adalah Reste Avec Moi yang ditulis oleh ibu Danilla sendiri, Ika Ratih Poespa. Saya tidak mengerti bahasa prancis dan saya belum menemukan terjemahan yang tepat untuk lagu ini. Namun, sepertinya lagu ini bercerita tentang mengajak seseorang untuk tidak pergi dan tetap tinggal. Sejujurnya saya lebih menyukai versi akustik yang terdengar lebih emosional.

Track keenam berjudul Wahai Kau, lagu favorit saya di album ini. Diawali dengan petikan gitar dan suara teduh Danilla bernyanyi ” Wahai kau, yang kerap tersenyum manis di benakku. Berhentilah. Agar kusanggup tidur kali ini”. Di lagu ini Danilla berduet dengan sang produser Lafa Pratomo. Lagu swing ini semakin terasa manis saat ditambah suara siulan, membuat kita terbuai dan berbunga-bunga.

Terpaut Oleh Waktu adalah track ketujuh yang beraliran jazz bertempo lambat. Aransemennya sederhana dan didominasi oleh piano. Liriknya puitis dan sukar dimengerti “ Bayangmu ingin kucumbu, tapi tersapu oleh sadarku. Nyatamu, kian merayu. Terbius aku hingga membeku. Tapi kuterharu kau terpaut oleh waktu”.

Lagu selanjutnya adalah OH NO! (Trembling Theory). Lagu dengan aransemen yang lumayan rumit dan berat. Sebuah sumber menyebutkan bahwa lagu ini bercerita tentang sex. Uh oh, i agree. Mendengarkannya saja membuat kita menarik nafas, apalagi ditambah bunyi-bunyian gitar elektrik yang mendominasi. Liriknya tidak eksplisit, malah dapat diartikan ke suasana lain. “Oh no, it start again i’m trembling and wane. Oh no, it ruins my brain i’m going insane”.

Di lagu kesembilan, Danilla menulis lagu tentang Junko Furuta, seorang siswa yang disiksa, diperkosa, dan dibunuh pada tahun 1980an. Setelah membaca kisah tentang Junko Furuto, Danilla bertekad untuk membuat lagu tentangnya. Hingga terciptalah sebuah lagu jazz..soul yang sangat kelam. Liriknya membuat saya merinding “ How could you build a revenge while you calmed your heart? How could you woke you hate while death is the new bed?”.

Tinggalkan lagu Junko Furuta yang tragis, kita beralih ke track sepuluh yang berjudul Berdistraksi. Lagu ini sepertinya bercerita tentang kecemburuan. Salah satu lagu swing yang membuat kita ingin berdendang dan bergoyang. Liriknya puitis dan sederhana, namun mengena. “Ku melangkah terseok tuk dibunuh waktu. Seingatku waktu itu kau bersamanya. Ku menjadi bulan-bulanan oleh perasaan. Ku diabaikan dalam sendu. Hatiku membiru, terperangkap. Menggerutu”.

Lagu selanjutnya berjudul Bilur. Lagu ini sangat sulit diartikan. Saya masih belum tahu lagu ini bercerita tentang apa. Sepertinya sangat filosofis. Seperti Junko Furuta, lagu ini menyayat-nyayat jiwa, apalagi ditambah dengan gesekan biola. “Dan kita bertahan dalam sebuah kekhilafan. Mengingkara nyata, dipisahkan tuan. Siapakah kita? Tiada perlu diartikan. Karena dalam diam, saling merasakan”.

Lagu ke 12 adalah sebuah cover version, My Favorite Things, salah satu lagu di film musikal The Sound Of Music. Versi Danilla lebih jazzy dan lebih panjang. Versi akustik saya dengarkan di souncloud milik Danilla, kali ini berduet dengan Lafa Pratomo. Dan saya lebih menyukai versi tersebut, hehehe.

Sebagai lagu penutup berjudul Pendahuluan. Seperti Penutupan, lagu ini hanya satu baris “..tiada lagi yang bisa temani ragaku…tiada lagi yang bisa bekali jiwaku..”.

Advertisements

2 thoughts on “Menelisik Album Telisik Danilla Riyadi

  1. Saya suka banget dgn album Danilla ini, dan anda hebat sudah menuliskannya dalam bentuk review ini.
    Sebagai pencinta musik jazz, saya merasa senang sekali dgn kehadiran Danilla di belantika jazz tanah air ini. Sayang saya belum pernah bertemu langsung dengan Danilla dalam beberapa festival jazz yang saya hadiri.
    Bila berkenan, sila berkunjung ke blog saya. Saya menuliskan tentang beberapa festival jazz yang telah saya hadiri.

    Salam dari saya di Sukabumi,

  2. Thanks for review this album..one of my fav musician..lembut,harmonis,dinamis dan amazing…love danilla pokoknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s