Uncategorized

Lagu Adalah Mesin Waktu

Apakah anda setuju dengan judul diatas? Saya pikir semua orang menyetujuinya.

Lagu adalah mesin waktu yang akan mengantarkan pendengarnya ke masa lalu. Dengan mendengarkan lagu, bayangan-bayangan suatu kejadian di suatu masa akan berkelibat di benak. Bayangan orangtua, sahabat-sahabat, bahkan orang yang pernah kita sukai tiba-tiba muncul. Bahkan perasaan saat pertama kali kita mendengarkan lagu tiba-tiba memenuhi dada.

Jika saat ini saya mendengarkan lagu Sepasang Rusa yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi, saya akan berada di kamar ibu saya. Dalam temaram, saya dan saudara-saudara saya akan mendengarkan ibu menyanyikan lagu ini dengan suranya yang lembut. Perasaan sedih dan sendu selalu menyelinap setelah mendengarkan lagu itu.

Lagu-lagu Sheila on 7 adalah mesin waktu menuju masa anak-anak dan masa remaja. Mendengarkan lagi lagu “Dan” akan membawa pikiran saya berjalan-jalan ke sekolah dasar. Di sana saya akan menjumpai teman-teman sepermainan… dan juga cinta monyet. Saat SMP, album Kisah Klasik Untuk Masa Depan adalah soundtrack wajib setiap anak di generasi saya. Mendengarkan kembali lagu “Bila Kau Tak Disampingku”, “Tunggu Aku Di Jakarta”, atau “Sephia” akan membuat saya ber-teleport menuju bangunan tua sebuah sekolah menengah di tengah kota Padang. Ingatan tentang seorang teman yang sangat menyukai suara vokalis Sheila on 7 akan langsung menyeruak. Juga tentang ujian kesenian, beberapa orang teman menyanyikan lagu Sheila on 7 dengan bangganya.

Lagu-lagu L`Arc~en~Ciel era Smile adalah mesin waktu menuju masa SMA. Jika saat ini saya mendengarkan “Coming Closer”, adrenalin akan kembali mengaliri tubuh saya. Jenis musik yang belum pernah saya dengar sebelumnya, suara Hyde yang powerful, musik dengan tempo cepat, bahkan saya ternganga mendengarkan pukulan drum Yuki kala itu. Namun saya tidak bisa menggambarkan sepenuhnya bagaimana perasaan saya saat pertama kali mendengarkan “Hitomi no Jyuunin”. Alih-alih merasa sentimentil, saya lebih suka menyebutnya euphoria.

Banyak sekali lagu yang akan mengantarkan saya ke Bukittinggi, kota tempat saya kuliah selama lima tahun. Adalah Le Ciel, lagu milik Malice Mizer yang akan selalu membawa saya pada suatu pagi yang hangat di atas bus. Cahaya matahari , pegunungan, sawah-sawah, kebun sayur-sayuran, bunga-bunga. Rasa kantuk yang masih tersisa dapat dikalahkan oleh pesona alam yang luar biasa.

Lagu “Sementara” milik Float adalah lagu perpisahan saya saat wisuda. Saat inagurasi, saya menyanyikan lagu ini bersama teman-teman. Saat ini, Sementara adalah lagu yang seringkali saya hindari untuk didengarkan. Betapa tidak, mendengarkannya lagi akan membuat saya merasa sedih dan tidak bisa membendung rindu yang meluap-luap.

Buat saya banyak sekali lagu yang berperan sebagai mesin waktu. Lagu-lagu tersebut adalah bagian dari setiap ritme kehidupan saya. Saya hanya perlu mendengarkannya berulang-ulang di suatu waktu, dan ia akan langsung terintegrasi dengan kejadian-kejadian pada saat itu. Di masa sekarang, saya hanya akan memutar lagu itu kembali untuk memanggil memori-memori itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s